Saturday, April 30, 2016

I'am a Winner

Katakanlah …

Aku tak diciptakan untuk kalah.

Kemenangan adalah hak hidupku.

Itu sebabnya sulit bagiku untuk menenangkan diri dalam kekalahan, tak mudah bagiku menyaksikan keberhasilan orang lain, dan itu pasti sebabnya aku membenci keadaan yang begini-begini saja.

Aku harus berani.

Aku harus berani meninggalkan kebiasaan lama yang hanya membuatku gelisah dan minder.

Aku harus berani memasukkan diriku kedalam pergaulan yang selama ini kujauhi, dan melibatkan diriku dalam pekerjaan yang baik hasilnya bagi diriku dan sesamaku.

Aku harus berani.

Aku akan tampil lucu sekali, jika aku memimpikan yang tinggi dan besar, tapi semangatku rendah dan keberanianku kecil.

Aku harus berani.

Kehidupan yang tidak berani, bukanlah kehidupan yang menarik.

Aku harus berani sukses, atau aku harus ikhlas meratap dalam kelemahan.

Ini hidupku, aku harus berani.

I am a winner!

Thursday, April 14, 2016

Langit..

ni tentang cerita seseorang yang slalu underestimate terhadap dirinya sendiri, dia selalu menganggap dirinya adalah langit, bagi orang2 awam dan belum mengerti akan tata surya, langit dianggap tempat bergantungnya bulan, matahari dan bintang serta awan, pria tadi berfikir saat itulah langit akan dikagumi dan disanjung2, namun ketika orang2 tadi mengerti bahwa bulan, bintang, matahari dan awan tidak tergantung di langit, maka mereka akan mulai melupakan bahwa langit itu pernah ada,,, padahal diakui atau tidak, dimengerti atau tidak, manusia akan tetap mengagumi langit apa adanya, karena tanpa langit, pelangi takkan berbias indah, bulan tak akan berbinar terang, mentari takkan hangat menyinari dan bulan kan slalu terlihat temaram, langitlah yang melihat berjuta cerita, menampung berjuta asa tanpa pernah berbicara dan bercerita, langit bukanlah tempat bergantungnya harapan, tapi setidaknya bisa menjadi teman bahkan bagi mereka yang benar-benar sendirian... langit memang indah bukan?

Sunday, March 13, 2016

Life and Death

We are born.We grow.We grow old. We die.No one really knows why we are born.No one really knows what happens when we die.So what is the point of this existence? Do you know?

What is the point of living? That is a big question to which all wisemen who’ve ever walked the earth and all the religions thus formulted have been trying to give an easy answer. In order to make it comprehensible to human beings, the matter tends to be conveyed in terms of principles and theories that are based on “forms”. Only people, who’ve attained the “ultimate enlightment”, precieve the answer behind the words. Only people who are absolutely enlighted know the secret of “knowing self”. And only by knowing “self” that the purpose of existence would come to you spontaneously. The secret of “knowing self” cannot be spoken of because it is not supposed to be expressed in words. Words are “forms” as they are so they cannot be used to speak of something that is not even formless. Secondly, it is like watching a “Hitchcock” movie, you’ll never ever know if you could guess the ending yourself if somebody told you before. So the enlightment attained this way is not your own, it is somebody else’s. The one who told you have actually ripped you off the chance of attaining absolute enlightment and living it out in this life. That is cruelty, that is also “doing the bad with good intention”.

So the wisemen and sages have had nothing to say really. So they used mataphors and analogy in Sutras and Bible, hoping by using words of forms they could lead you to the “way” of knowing self. These are good intentions but usually end up misleading because there is NO way. Sentient beings are normally so absorbed in forms that they cannot be dettached from it at all. They even dwell on the forms thus stated in the holly scripts so much that they become superstitious, thinking there is a formless “form of holiness and power” that creates and controls every being and happening in the universe(s).

So, you do not exist to make money, my friend, to lose it and to die without being able to bring it with you. You do not exist because you have to live for the ones you love, to raise kids and watch them staying away from you even before you die. They are all forms and appearances that are impermanent and fleeting. You exist for the purpose of “knowing self”. Knowing self can never be sought after either. Seeking is “doing”. “Self” is being. It would reveal itself to you only when you are ready.

To live, in the other words, is get yourself ready to percieve the abolute, ultimate truth of “self”. That is to say to cleanse your mind from the “evil thoughts” that has been accumulate during this life and those over previous lives. These evil thoughts originate from separation - to separate between self and others. Life of calamity would repeat itself over and over again if you do not relinquish separation or dualistic discrimination. Only freeing yourself from separation would “self” be able to expose itself to you. You can’t embrace dualistic discrimination and seek for “self’ at the same time. It won’t happen. So whenever you do anything upon anybody else, put yourself in that person’s position; whether he is a waiter at a resturant, a cleaner of the office or a garbage collector at your backdoor. “Treat others like yourself” as many sages have said. Only by giving yourself up totally would you be able to transcend your spirit to the same level of the infinite intelligence (God or Buddha) and “self” would dawn on you on its own will. Now, you have something to do with your own existence, don’t you?!

Friday, March 4, 2016

Seandainyaa..

Hmm … seandainya kita lebih sering membayangkan hasil baik dari upaya kita, daripada menggelisahkan kemungkinan buruk, mungkin akan lebih banyak orang yang kita termui, dan lebih banyak pekerjaan yang kita coba.

Tuhan tidak merencanakan kita gagal.

Semua tuntunan dan bahkan ketegasan Tuhan dalam mengharuskan kesetiaan kepada yang benar, adalah untuk kebaikan kita.

Maka marilah kita lebih berharapan baik, dan mengurangi kebiasaan menduga keburukan di balik kejadian dan niat Tuhan.

Kita akan berupaya sebaik dugaan kita.

Maka dugalah yang baik-baik.

Tuesday, February 9, 2016

"Katakanlah"

Aku mungkin kalah dari waktu ke waktu, tapi aku bukan pecundang.

Seorang pemenang adalah jiwa bersahaja, yang bangkit lagi setiap kali dia jatuh.

Aku hanya harus bangkit satu kali lebih banyak dari jumlah jatuhku.

Aku boleh jatuh seratus kali atau seribu kali, tapi aku akan tampil sebagai pemenang, asalkan aku bangkit seratus satu kali, atau seribu satu kali.

Ini hidupku. Bukan jatuhku yang penting, tapi bangkitku.

I may lose, but I am not a loser.

Aku mungkin kalah, tapi aku bukan pecundang.

I am a winner in the making!

Tuesday, January 26, 2016

Masa Lalu..

Anda tidak akan mungkin berhasil
melupakan kepedihan masa lalu,
karena untuk melupakannya
Anda harus mengingatnya lagi.

Setelah Anda melakukan semua hal
untuk lupa, Anda akan semakin ingat
apa yang ingin Anda lupakan.

Sudahlah...

Hiduplah dalam kenyataan hari ini,
syukurilah pelajaran yang disediakan
oleh kepedihan itu,
dan masukilah masa depan Anda
dengan ceria,
dalam tuntunan kasih sayang Illahi.

Saturday, January 2, 2016

Lantas Sesederhana Itu?

Beberapa lagu memang bisa membawa kita kembali pada masa lalu. Lantas kita bisa apa?
Terkadang yang nggak ada dicari cari. Sedangkan yang ada di depan mata dicuekin. Cinta memang banyak maunya. lantas kita bisa apa?
Waktu putus cinta rasanya seperti mau mati tapi kenyataannya, kita masih hidup dan masih bisa jatuh cinta (lagi). Untuk melupakan cinta lama, temukanlah cinta baru. Meski akhirnya akan terluka (lagi).
Terkadang cinta, dimulai dengan senyuman, pindah ke ranjang, lalu berakhir dengan saling melupakan. Sesederhana itu.
"Setiap kisah punya makna. Setiap mantan punya cerita yg berbeda."