Dalam hidup, kamu berhak bahagia. Jangan biarkan kebahagiaanmu ditentukan oleh orang lain. Bahagia harus ada dalam dirimu.
Thursday, May 8, 2014
Disconnecting from Life
It is wonderful to be connected to the source and to feel that energy within oneself. But sometimes “life” takes over.All too easily it is easy to become bothered by minor problems of life around us. A large bill or a sick pet or relative. A small mistake we made that caused some pain. Or an argument, however trivial, with a friend or colleague. Even the weather can jolt us away from the true reality.At these times the Source all but disappears and life takes over. Of course, we understand that life’s events are not who we are and that they are not our purpose on Earth.But how can we stay focused and stay close to the Source?It is hard, Ian. Remember emotion is the sign that your conditioned mind takes over you and pretends to be you again. You cannot avoid emotion but deal with it face to face. Observe how your mind is working against you. Take some deep breathes and feel the life of you inside. Feel how the energy comes in and fill your body. Or look around you. Look at a flower or a tree or even a chair. Take off the label that human have imposed on them. Feel the source of oneness inside them and them feel the same in you. Hope this will work for you.
Friday, March 21, 2014
Ketika Aku Sudah TUA
Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah,bersabarlah sedikit terhadap aku.
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu,
ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau
dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu
kali kuceritakan agar kau tidur.
Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?
Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan
mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.
Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk
memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk
mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau
disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai
belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang
temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa
syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.
Mengertilah,bersabarlah sedikit terhadap aku.
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu,
ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau
dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu
kali kuceritakan agar kau tidur.
Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?
Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan
mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.
Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk
memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk
mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau
disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai
belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang
temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa
syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.
Thursday, February 27, 2014
something~
Aku pernah benar-benar hampir beranjak
pergi, tapi aku menoleh lagi, lalu akhirnya kembali. Sesuatu telah
menggerakan hati dan seluruh kontrolku. Padahal aku sadar bahwa hatimu
tak bergerak untukku.
Aku merasa pijakanku masih kuat untuk
menopang diri dan segala yang akan kuhadapi nanti. Karang ini masih
sanggup bertahan kokoh meski di terjang ombak keras sekalipun. Rasa ini
masih kuat untukmu. Aku adalah karang yang bertahan itu. Dan hati yang
keras seumpa karang, adalah milikmu.
Aku pernah benar-benar merasa sakit lalu
ingin segera berkemas dan pergi. Dalam hati aku berharap banyak, ada
kamu yang menahanku. Membuatku bertahan. Sekedar menunjukan tak ingin
aku pergi. Namun itu adalah sudut sempit nan gelap dalam rongga hatimu,
yang tak tersentuh oleh alam sadarmu.
Tuesday, February 4, 2014
Listen to me!
Saya pendiam kok. Apalagi urusan mencintai diam-diam; saya ahlinya.
Awalnya susah jadi pendiam, tapi lama-lama..semua terasa lebih jelas
kalau dilakukan diam-diam.
Saya mulai belajar makan, tidur, berjalan dengan diam-diam. Bahkan menangis diam-diam. Lama kelamaan, saya mulai jadi pendiam. Sekarang saya bisa mencapai tingkatan tertinggi; berbicara diam-diam.
Saya mulai belajar makan, tidur, berjalan dengan diam-diam. Bahkan menangis diam-diam. Lama kelamaan, saya mulai jadi pendiam. Sekarang saya bisa mencapai tingkatan tertinggi; berbicara diam-diam.
Friday, January 24, 2014
Putus Asa..
Untuk yang nyaris putus asa,
bisikkanlah
Tuhanku Yang Maha Melapangkan,
Ingin rasanya aku menyerah,
melepaskan ini semua dan
membiarkan diriku hilang
dalam ketidak-pedulian.
Tapi aku tak mungkin ikhlas
membiarkan jiwa baikku ini rusak.
Sebetulnya aku hanya letih
dan sedikit merasa tak disayangi
Tapi aku tahu,
Engkau mencintaiku.
Tuhan,
lapangkahlah dadaku,
teduhkanlah wajahku,
dan tinggikanlah derajatku
Aamiin
bisikkanlah
Tuhanku Yang Maha Melapangkan,
Ingin rasanya aku menyerah,
melepaskan ini semua dan
membiarkan diriku hilang
dalam ketidak-pedulian.
Tapi aku tak mungkin ikhlas
membiarkan jiwa baikku ini rusak.
Sebetulnya aku hanya letih
dan sedikit merasa tak disayangi
Tapi aku tahu,
Engkau mencintaiku.
Tuhan,
lapangkahlah dadaku,
teduhkanlah wajahku,
dan tinggikanlah derajatku
Aamiin
Thursday, January 23, 2014
Kamu sudah tersenyum hari ini? :)
Orang yang mampu untuk tersenyum dalam keadaan apapun itu adalah orang yang kaya. Aku mau kaya :)
Setiap senyum pasti meninggalkan kesan yang menyenangkan.
Kecuali senyum mertua jahat di sinetron. Kalo kita lagi ngomong sama
orang di telpon sambil senyum, meskipun orangnya nggak liat kita, pasti
orangnya merasa :)
Senyum itu bikin orang merasa diterima dan dihargai. Iya
kan? Iya. Aku selalu ngerasa nyaman sama orang yg nggak pelit untuk
senyum & nggak betah sama orang yang jutek.
Orang ganteng sekalipun kalo nggak suka senyum ya tetep ganteng sih. Tapi nggak semenyangkan orang yang suka senyum...
Orang ganteng sekalipun kalo nggak suka senyum ya tetep ganteng sih. Tapi nggak semenyangkan orang yang suka senyum...
Senyum itu menular. Mood sejelek apapun kalo liat orang
tersenyum jadi agak enakan. Kalo bisa jadi orang yang menyenangkan cuma
dengan senyum aja, kenapa memilih jadi orang yang menyebalkan?
Jangan kayak mantan aku dulu yang smp dan sma selalu saja
dapat predikat miss jutek. Tapi untungnya setelah berpacaran sama aku,
mereka banyak belajar senyum terus, sekarang banyak teman dan mantan deh
merekanya :)
Itu karna setiap ketemuan aku bilangin "orang yg marah² terus jadi cepet tua. Artinya, kalo berusaha untuk senyum terus jadi awet muda kan? Dan akupun akan selalu menyayangimu selama senyum itu ada padamu".. :D
Itu karna setiap ketemuan aku bilangin "orang yg marah² terus jadi cepet tua. Artinya, kalo berusaha untuk senyum terus jadi awet muda kan? Dan akupun akan selalu menyayangimu selama senyum itu ada padamu".. :D
Mendingan memaksa diri untuk tersenyum daripada kesel
terus-terusan kan? Siapa tau dgn begitu keselnya jadi ilang. Eh, tapi
jangan salah loh.. biasanya yg ketularan bukan dapet senyum lagi tapi
bisa jadi ngakak kalo pas ngobrol sesuatu :) --> :)) --> :D
Daripada puasanya batal karena kesel, mendingan pura-pura
tersenyum. Pura-pura yg kayak gitu nggak bikin dosa kok. Sebab dengan
banyak tersenyum, orang lain jadi nyaman sama kita & kita ngebantu
orang lain juga untuk merasa lebih baik :')
Jangan takut kalo kebanyakan senyum gigimu jadi kering. Mending gigi kering lagian, daripada hati yg kering. Aeh.
Senyum itu sesuatu yg paling murah yg bisa kasih ke org lain, tapi efeknya dahsyat dan nggak murahan :D
Orang yang bersyukur dan ikhlas, pasti nggak susah untuk tersenyum ya? Iya.
Senyum itu sesuatu yg paling murah yg bisa kasih ke org lain, tapi efeknya dahsyat dan nggak murahan :D
Orang yang bersyukur dan ikhlas, pasti nggak susah untuk tersenyum ya? Iya.
Dulu aja mukaku jutek bawaan lahir. Karena sering senyum
gara² males dibilang galak. Sekarang jadi kebiasaan senyum ke siapa aja
:)
Yang aku lakuin kalo lagi susah senyum, latihannya gigit pensil atau pulpen. Tapi jangan dikunyah ya. Nanti matik :D
Yang aku lakuin kalo lagi susah senyum, latihannya gigit pensil atau pulpen. Tapi jangan dikunyah ya. Nanti matik :D
Orang yang susah untuk nggak senyum terus itu orang yang
lagi jatuh cinta ya? Karena nggak tiap hari kita bisa jatuh cinta demi
bisa senyum terus, gimana kalo senyum duluan supaya ada yang jatuh
cinta?
Mau minta tolong sama orang juga kalo pake senyum
kebanyakan lebih berhasil daripada mintanya pake maksa. Masih bisa
makan, masih bisa tidur, masih punya temen kan? Berarti masih bisa
senyum juga dong :')
Tuesday, December 24, 2013
Harga Sebuah Impian
Karier seorang penulis umumnya diawali dari sebuah impian, sebuah fantasi, sebuah tujuan yang terlihat jauh di balik cakrawala. "Saya ingin jadi penulis novel." "Saya ingin menerbitkan buku puisi." "Saya ingin nama saya terpampang di layar sebagai penulis cerita film." Karier saya juga diawali dengan sebuah impian. Saya ingin membuat orang tertawa. Saya ingin menulis cerita komedi.
Tetapi setiap penulis juga harus menyadari, bahwa ada harga yang harus dibayar untuk setiap tujuan yang hendak dicapai. Tiket masuk ke dalam sebuah impian tidak ada yang gratis. Ada riset yang harus dilakukan, harus belajar, berlatih, berlatih, dan berlatih. Yang paling murah dan biasanya
paling cepat, jalan untuk mencapai semua keinginan itu adalah dengan membayar harganya secara penuh. Lakukan semua pekerjaan dengan sungguh-sungguh!
aat saya memutuskan untuk menjadi seorang penulis komedi, saya ingin belajar dari seorang yang profesional. Bob Hope, saya pikir, memiliki bahan-bahan yang berguna dan paling bisa dipelajari untuk tujuan analisis. Bahan-bahan komedinya yang lucu ada di koran dan murni humor. Tentu saja, Bob Hope adalah seorang pakar dalam membawakan lawakan yang dibawakan secara langsung, tetapi tetap saja ada humor yang bisa dibaca dan dipelajari. Komik yang lain, seperti Jerry lewis juga lucu, tetapi lebih kepada kejenakaan untuk menciptakan suasana yang meriah. Di buku, bahan-bahan itu kurang begitu bermanfaat bagi para pelajar, dibandingkan seperti pada buku-buku komedi Bob Hope.
Jadi saya mempelajari komedi Bob Hope. Saya merekam monolog-nya di acara televisi dan menyalin kata-katanya. Saya harus menganalisis bentuk-bentuk lawakan, susunan kata, ritme, pengaturan lelucon di dalam aliran, dan lain-lain. Kemudian, untuk sementara waktu saya mengesampingkan
monolognya. Dalam beberapa minggu, saya telah memilih topik baru dari koran dan mencoba menulis sebuah humor dengan mempergunakan teknik yang saya pelajari dari monolog Bob Hope yang terbaru. Dengan mempergunakan teknik ini, Bob Hope dan para penulisnya menjadi mentor saya.
Dan ternyata cara itu membuahkan hasil. Saya berhasil menjadi penulis komik di koran lokal, kemudian melanjutkan jenjang karier menjadi sorang staf di pertunjukan selingan di televisi.
Bahkan akhirnya menjadi lebih berhasil lagi. Bob Hope menghubungi saya. "Saya sudah mendengar mengenai tulisan anda dan berpikir jika anda mau membuatkan beberapa alur cerita untuk saya tampil di Academy Awards. Tahun ini saya menjadi pembawa acaranya. Saya ingin tahu apakah humor buatan
anda bisa membantu saya." Ini adalah bagian dari mimpi yang tidak berani saya bayangkan sebelumnya. Tetapi di sini tidak ada sesuatu yang mustahil. Saya membuka buku dan memegang pulpen di halaman belakang rumah, menulis beberapa ratus lelucon mengenai kondisi saat ini tentang bioskop, selebritis, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan piala Oscar. Secara alami, saya menggunakan metoda yang saya pelajari bertahun-tahun dari gaya lawakan Bob Hope.
Bob Hope mempergunakan sepuluh humor yang saya berikan pada casting televisi dan itu membuat saya sangat bangga. Hari berikutnya dia memanggil saya lagi dan berkata, "Saya suka tulisan-tulisan anda. Kelihatannya anda telah menulis bahan komedi untuk saya sepanjang hidup saya." "Benar Pak Hope," kata saya. "Hanya bapak tidak mengetahuinya. " Selanjutnya saya menjadi penulis tetap untuk Bob Hope.
* * * * *
Ada dua pelajaran yang berharga dari pengalaman ini, bahwa semua penulis dapat belajar dan memperoleh inspirasi dari : Pertama yaitu usaha yang harus dilakukan, supaya setiap impian dapat
terwujud. Impian adalah sumber kekuatan, hanya jika impian itu diwujudkan dalam penelitian, pembelajaran dan usaha yang tidak kenal menyerah. Hal yang kedua adalah: lakukan segala hal yang harus dikerjakan - dan tujuan anda akan bisa diraih.
Tetapi setiap penulis juga harus menyadari, bahwa ada harga yang harus dibayar untuk setiap tujuan yang hendak dicapai. Tiket masuk ke dalam sebuah impian tidak ada yang gratis. Ada riset yang harus dilakukan, harus belajar, berlatih, berlatih, dan berlatih. Yang paling murah dan biasanya
paling cepat, jalan untuk mencapai semua keinginan itu adalah dengan membayar harganya secara penuh. Lakukan semua pekerjaan dengan sungguh-sungguh!
aat saya memutuskan untuk menjadi seorang penulis komedi, saya ingin belajar dari seorang yang profesional. Bob Hope, saya pikir, memiliki bahan-bahan yang berguna dan paling bisa dipelajari untuk tujuan analisis. Bahan-bahan komedinya yang lucu ada di koran dan murni humor. Tentu saja, Bob Hope adalah seorang pakar dalam membawakan lawakan yang dibawakan secara langsung, tetapi tetap saja ada humor yang bisa dibaca dan dipelajari. Komik yang lain, seperti Jerry lewis juga lucu, tetapi lebih kepada kejenakaan untuk menciptakan suasana yang meriah. Di buku, bahan-bahan itu kurang begitu bermanfaat bagi para pelajar, dibandingkan seperti pada buku-buku komedi Bob Hope.
Jadi saya mempelajari komedi Bob Hope. Saya merekam monolog-nya di acara televisi dan menyalin kata-katanya. Saya harus menganalisis bentuk-bentuk lawakan, susunan kata, ritme, pengaturan lelucon di dalam aliran, dan lain-lain. Kemudian, untuk sementara waktu saya mengesampingkan
monolognya. Dalam beberapa minggu, saya telah memilih topik baru dari koran dan mencoba menulis sebuah humor dengan mempergunakan teknik yang saya pelajari dari monolog Bob Hope yang terbaru. Dengan mempergunakan teknik ini, Bob Hope dan para penulisnya menjadi mentor saya.
Dan ternyata cara itu membuahkan hasil. Saya berhasil menjadi penulis komik di koran lokal, kemudian melanjutkan jenjang karier menjadi sorang staf di pertunjukan selingan di televisi.
Bahkan akhirnya menjadi lebih berhasil lagi. Bob Hope menghubungi saya. "Saya sudah mendengar mengenai tulisan anda dan berpikir jika anda mau membuatkan beberapa alur cerita untuk saya tampil di Academy Awards. Tahun ini saya menjadi pembawa acaranya. Saya ingin tahu apakah humor buatan
anda bisa membantu saya." Ini adalah bagian dari mimpi yang tidak berani saya bayangkan sebelumnya. Tetapi di sini tidak ada sesuatu yang mustahil. Saya membuka buku dan memegang pulpen di halaman belakang rumah, menulis beberapa ratus lelucon mengenai kondisi saat ini tentang bioskop, selebritis, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan piala Oscar. Secara alami, saya menggunakan metoda yang saya pelajari bertahun-tahun dari gaya lawakan Bob Hope.
Bob Hope mempergunakan sepuluh humor yang saya berikan pada casting televisi dan itu membuat saya sangat bangga. Hari berikutnya dia memanggil saya lagi dan berkata, "Saya suka tulisan-tulisan anda. Kelihatannya anda telah menulis bahan komedi untuk saya sepanjang hidup saya." "Benar Pak Hope," kata saya. "Hanya bapak tidak mengetahuinya. " Selanjutnya saya menjadi penulis tetap untuk Bob Hope.
* * * * *
Ada dua pelajaran yang berharga dari pengalaman ini, bahwa semua penulis dapat belajar dan memperoleh inspirasi dari : Pertama yaitu usaha yang harus dilakukan, supaya setiap impian dapat
terwujud. Impian adalah sumber kekuatan, hanya jika impian itu diwujudkan dalam penelitian, pembelajaran dan usaha yang tidak kenal menyerah. Hal yang kedua adalah: lakukan segala hal yang harus dikerjakan - dan tujuan anda akan bisa diraih.
Subscribe to:
Posts (Atom)